Perjalanan yang kulalui saat diklat kemarin itu menyenangkan meskipun sangat sangat melelahkan. Ada beberapa hal yang kulihat dan hal yang tidak ingin kulihat.
Maksud dari hal yang tidak ku ingin kan itu salah satunya melihat anak kecil di Jam 17.40 yang mengemis ngemis untuk minta uang, itu mengingatkan ku pada keponakanku yang sangat sangat manja jika berada dirumah, dan aku memikirkan bagaimana jika keponakan ku bila jadi seperti mereka, membayangkannya saja sudah cukup membuat dadaku sakit, padahal di umur seusianya banyak anak anak yang masih main main dengan gadget kesayangannya, sedangkan mereka malah memikiran bagaimana caranya dia makan nanti malam dengan mengemis uang ke orang orang. Hal hal yang sampai aku tidak habis pikir, bagaimana orang tua mereka membiarkan anak sekecil itu mengemis di tengah jalan yang panas dan penuh debu ini, apakah mereka tidak memikirkan perkembangan dan daya tahan tubuh anak mereka yang masih rentan dengan penyakit bahaya. meskipun dengan alasan kekurangan ekonomi keluarga mereka bisa menuyuruh anak mereka mengemis, itu bukan alasan alasan yang tepat menurutku untuk membiarkan anak sekecil itu untuk mengemis.
Menurutku, Memberikan uang kepada anak-anak juga mempertahankan rantai kemiskinan bila mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan, dan menciptakan masa depan lebih baik bagi mereka sendiri.
namun menurut mereka, karena kebanyakan syarat kerja di indonesia minimal 17 tahun, menjadikan mereka terpaksa mengemis untuk mencari uang guna membeli kebutuhan pokok dan pangan . kebanyakan dari mereka juga terpaksa harus mengemis karena tidak mau dibuat pusing dengan persyaratan kerja yang sedikit sulit. Sebenarnya mengemis kan juga bukan satu satunya jalan keluar untuk menangani masalah perekonomian keluarga, kan masih banyak pekerjaan yang tidak memberatkan anak anak
Setelah aku merenungkan nasib mereka yang aku sendiri tidak tahu bagaimana nasib ku beberapa tahun ke depan, aku melanjutkan untuk melihat sekitar ku, pemandangan indah yang disuguhkan oleh laut mengalihkan ku dari rasa pusing yang diakibatkan oleh gelombang kapal yang sedang ku naiki ini
Dan, aku menemukan seseatu yang janggal lagi, aku melihat beberapa penjual asongan yang menurutku mereka terlalu memaksakan dagangannya agar dilirik oleh pembeli, sebelumnya aku sudah sering melihat melihat pedagang asongan di daerah asalku, tapi kali ini beda, cara menawarkan dagangan mereka berbeda dari cara menawarkan dagangan yang ada di daerahku.
Menurut teman temanku memang biasa aja, karena mereka sudah sering menaiki kapal ini, tapi bagiku yang jarang bahkan ini ketiga kalinya aku menaiki kapal ini, yah kaget kenapa mereka seperti itu
Setelah perjalanan kapalku selesai, aku menuju tujuan selanjutnya yaitu TP.
Ini kedua kalinya aku berada di TP dan berpenampilan seperti orang aneh, karena sebelumnya saat aku berada disini hanya memakai sandal jepit dan training hanya untuk beli baju yang kuinginkan di salah satu store yang ada di tunjungan plaza.
Pengalamanku ke Tunjungan plaza yang kedua ini tidak semenyedihkan pengalamanku yang pertama, karena menurutku pakaian yang kukenakan sudah rapi meskipun wajahku yang kucel karena seharian berada dijalan.
Saat berada didalam, aku melihat sekitarku, dan aku kaget karena ada orang tua yang membelikan tas untuk anaknya di store yang mahal menurutku, karena buat aku masuk kesana saja butuh waktu berbulan bulan untuk menabung,
sedangkan anak kecil itu dengan gampang nya mendapatkan itu, padahal menurutku anak kecil itu bukan waktunya pakai tas itu, mungkin itu hanya sifat iri ku makanya aku bisa bicara seperti, yah karena memang setauku anak kecil dulu tidak memakai tas yang harganya tiga kali lipat spp ku sewaktu di sekolah.
Dan juga, aku banyak menemui anak anak yang pakaian nya lebih modis dari cara berpakaianku. Aku tidak mempermasalahkan bajunya. Hanya saja, aku tidak habis pikir kenapa aku bisa kalah dari seorang anak kecil. Sempat aku berpikir, kalau dulu masa kecilku seperti mereka, mungkin sekarang aku sudah jadi selebgram seperti kebanyakan orang cantik biasanya. Tapi karena didikan orangtuaku dan orang tua anak kecil itu yang berbeda, jadi hasilnya juga berbeda. Aku tidak menyalahkan orang tua yang menjadikanku seperti inI dan kenapa tidak seperti mereka. Yah mungkin karena berbeda kultur yang menyebabkan perbedaan yang jauh antara aku dan mereka.
Setelah aku mengamati hal-hal yang menurutku tidak penting, aku melanjutkan untuk melaksanakan tugasku seharusnya. Yaitu mewawancarai beberapa orang yang tidak aku kenali. Pikirku ini hal yang mudah, ternyata ini tidak seperti yang aku bayangkan.
Aku yang dulunya hanya dapat teori teori tentang karakter manusia, harus menghadapi secara langsung dengan karakater karakter manusia yang berbeda beda. Karakter karakter yang kutemui berbeda dari karakter karakter yang pernag kutemui sebelumnya, karena sebelumnya kupikir meskipun setiap orang itu berbeda beda, mungkin masih ada sedikit karakter yang sama, ternyata dari apa yang kutemui kemaren sangat berbeda apa yang kubayangkan sebelumnya.
Ternyata memahami karakter orang orang itu sulit, dan harus sabar apalagi kalau karakternya yang berbeda jauh dari kita.