Sabtu, 31 Agustus 2019

Salah satu untuk kuliah adalah agar aku tidak jadi polwan. Bayangan bayangan indah tentang kuliah sudah ku fikirkan sejak awal keterimaku di Snmptn.
Tapi nyatanya, kuliah tidak seindah di Ftv .
Tugas A-Z yang selalu kutemui selalu ada. 
Menyebalkan juga saat jarak jam antar matakuliah A dan B itu jauh. Jadi buat aku males untuk masuk ke matakuliah B karena selang waktu antara mata kuliah A dan B, sehingga membuat ku ketiduran dikosan.
Tugasku juga tidak kalah menyebalkannya, aku tak masalah kalau harus bikin tugas sendiri, tapi kalau dari awal tugasnya berkelompok, kenapa jadi aku sendiri yang harus mengerjakan. 
Aku tahu mereka gaptek, tapi setidaknya mereka membantu lah. aku juga pingin senang senang kaya kalian yang bisa kesana kemari tanpa memikirkan tugas.
Aku bisa saja egois, dan tidak mau mengerjakan tugasnya tapi sayangnya aku masih belum mau menunjukkan sifat jahatku itu. Aku takut kalau aku bakal lebih dikucilkan jika harus memaksa mereka mengerjakan tugas kelompok ini.
Alhamdulillahnya, aku masih bisa menahan semua ini. Dan melampiaskan semua kemarah itu kedalam aktivitas tercinta ku, yaitu rebahan tanpa melakukan apapun dan tanpa ditemani siapapun, hanya berteman dengan kesepian:'

Kenapa ?

- Mengapa harus mencari ilmu di sekolah? Mengapa seluruh orang menuntut sekolah adalah bentuk formalitas belajar paling tinggi? Nyatanya.. Ada beberapa faktor kecil yang menjadikan pukulan telak bagi kita. Lihat saja anak kecil yang berada pada lampu merah trotoar jalan. Kita yang berada di perguruan tinggi sekalipun tak pernah menunduk sedalam itu untuk pengucapan terima kasih, tapi anak kecil tersebut 90° untuk koin 500 perak. Mengapa orang tua berpikir hanya satu jalan untuk ilmu? Mengapa mengelompokan anak nya hanya dalam satu persepsi? Anak baik dengan anak baik? Seharus nya tidak begitu. Berteman dengan anak yg buruk adalah ilmu, termasuk contoh bahwa kita tidak boleh meniru apa yang salah dan menjalan kan yang benar. 
- Patokan ilmu tidak di ukur dalam skala besar! Pengetahuan di dapat apabila kita memahami sesuatu secara bijak. Jika saya sebagai mahasiswa hanya terpaku pada buku setebal 5 depa di dalam kelas, mungkin saya akan mampu mengerjakan lembar esai yang begitu rumit, tapi di mendentangkan garpu begitu keras ketika makan bersama keluarga, sama hal nya dengan ilmu tanpa tata krama. 
Sehingga, ilmu pengetahuan yg sebenarnya bukan hanya didapatkan di buku saja.
- Dilingkungan sekitar pun kita juga bisa mendapatkan ilmu. Seperti dari seseorang yg saya kenal, yg pernah mengatakan ilmu juga bisa didapatkan didunia pelacuran.
Awalnya saya kaget, kenapa harus seperti itu perumpamaannya. Setelah saya pikir", ada benarnya jg. Yah karena ilmu itu luas. Ilmu itu ga harus ada di dapat di dalam kelas maupun dari guru. Ilmu bisa didapatkan dimana pun dan dari siapapun.
Hakikat nya lebih sopan mereka yang berilmu rendah yang bergaul dengan semua orang dari pada berkutat dengan buku tapi tidak pernah bertegur sapa.

Rabu, 28 Agustus 2019

Catatan perjalanan Part 1

Perjalanan yang kulalui saat diklat kemarin itu menyenangkan meskipun sangat sangat melelahkan. Ada beberapa hal yang kulihat dan hal yang tidak ingin kulihat.
Maksud dari hal yang tidak ku ingin kan itu salah satunya melihat anak kecil di Jam 17.40 yang mengemis ngemis untuk minta uang, itu mengingatkan ku pada keponakanku yang sangat sangat manja jika berada dirumah, dan aku memikirkan bagaimana jika keponakan ku bila jadi seperti mereka, membayangkannya saja sudah cukup membuat dadaku sakit, padahal di umur seusianya banyak anak anak yang masih main main dengan gadget kesayangannya, sedangkan mereka malah memikiran bagaimana caranya dia makan nanti malam dengan mengemis uang ke orang orang. Hal hal yang sampai aku tidak habis pikir, bagaimana orang tua mereka membiarkan anak sekecil itu mengemis di tengah jalan yang panas dan penuh debu ini, apakah mereka tidak memikirkan perkembangan dan daya tahan tubuh anak mereka yang masih rentan dengan penyakit bahaya. meskipun dengan alasan kekurangan ekonomi keluarga mereka bisa menuyuruh anak mereka mengemis, itu bukan alasan alasan yang tepat menurutku untuk membiarkan anak sekecil itu untuk mengemis.
Menurutku, Memberikan uang kepada anak-anak juga mempertahankan rantai kemiskinan bila mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan, dan menciptakan masa depan lebih baik bagi mereka sendiri.
namun menurut mereka, karena kebanyakan syarat kerja di indonesia minimal 17 tahun, menjadikan mereka terpaksa mengemis untuk mencari uang guna membeli kebutuhan pokok dan pangan . kebanyakan dari mereka juga terpaksa harus mengemis karena tidak mau dibuat pusing dengan persyaratan kerja yang sedikit sulit. Sebenarnya mengemis kan juga bukan satu satunya jalan keluar untuk menangani masalah perekonomian keluarga, kan masih banyak pekerjaan yang tidak memberatkan anak anak

Setelah aku merenungkan nasib mereka yang aku sendiri tidak tahu bagaimana nasib ku beberapa tahun ke depan, aku melanjutkan untuk melihat sekitar ku, pemandangan indah yang disuguhkan oleh laut mengalihkan ku dari rasa pusing yang diakibatkan oleh gelombang kapal yang sedang ku naiki ini
Dan, aku menemukan seseatu yang janggal lagi, aku melihat beberapa penjual asongan yang menurutku mereka terlalu memaksakan dagangannya agar dilirik oleh pembeli, sebelumnya aku sudah sering melihat melihat pedagang asongan di daerah asalku, tapi kali ini beda, cara menawarkan dagangan mereka berbeda dari cara menawarkan dagangan yang ada di daerahku.
Menurut teman temanku memang biasa aja, karena mereka sudah sering menaiki kapal ini, tapi bagiku yang jarang bahkan ini ketiga kalinya aku menaiki kapal ini, yah kaget kenapa mereka seperti itu
Setelah perjalanan kapalku selesai, aku menuju tujuan selanjutnya yaitu TP.
Ini kedua kalinya aku berada di TP dan berpenampilan seperti orang aneh, karena sebelumnya saat aku berada disini hanya memakai sandal jepit dan training hanya untuk beli baju yang kuinginkan di salah satu store yang ada di tunjungan plaza.
Pengalamanku ke Tunjungan plaza yang kedua ini tidak semenyedihkan pengalamanku yang pertama, karena menurutku pakaian yang kukenakan sudah rapi meskipun wajahku yang kucel karena seharian berada dijalan.
Saat berada didalam, aku melihat sekitarku, dan aku kaget karena ada orang tua yang membelikan tas untuk anaknya di store yang mahal menurutku, karena buat aku masuk kesana saja butuh waktu berbulan bulan untuk menabung,

sedangkan anak kecil itu dengan gampang nya mendapatkan itu, padahal menurutku anak kecil itu bukan waktunya pakai tas itu, mungkin itu hanya sifat iri ku makanya aku bisa bicara seperti, yah karena memang setauku anak kecil dulu tidak memakai tas yang harganya tiga kali lipat spp ku sewaktu di sekolah.
Dan juga, aku banyak menemui anak anak yang pakaian nya lebih modis dari cara berpakaianku. Aku tidak mempermasalahkan bajunya. Hanya saja, aku tidak habis pikir kenapa aku bisa kalah dari seorang anak kecil. Sempat aku berpikir, kalau dulu masa kecilku seperti mereka, mungkin sekarang aku sudah jadi selebgram seperti kebanyakan orang cantik biasanya. Tapi karena didikan orangtuaku dan orang tua anak kecil itu yang berbeda, jadi hasilnya juga berbeda. Aku tidak menyalahkan orang tua yang menjadikanku seperti inI dan kenapa tidak seperti mereka. Yah mungkin karena berbeda kultur yang menyebabkan perbedaan yang jauh antara aku dan mereka.
Setelah aku mengamati hal-hal yang menurutku tidak penting, aku melanjutkan untuk melaksanakan tugasku seharusnya. Yaitu mewawancarai beberapa orang yang tidak aku kenali. Pikirku ini hal yang mudah, ternyata ini tidak seperti yang aku bayangkan.
Aku yang dulunya hanya dapat teori teori tentang karakter manusia, harus menghadapi secara langsung dengan karakater karakter manusia yang berbeda beda. Karakter karakter yang kutemui berbeda dari karakter karakter yang pernag kutemui sebelumnya, karena sebelumnya kupikir meskipun setiap orang itu berbeda beda, mungkin masih ada sedikit karakter yang sama, ternyata dari apa yang kutemui kemaren sangat berbeda apa yang kubayangkan sebelumnya.
Ternyata memahami karakter orang orang itu sulit, dan harus sabar apalagi kalau karakternya yang berbeda jauh dari kita.

perjalananku sesungguhnya kuawali dengan kumpul ditempat biasanya,karena beberapa lagi aku akan melewati sesuatu yang tidak kusukai tapi wajib hukumnya bagiku untuk dijalani,yaitu diklat.sewaktu SMK,aku pernah mengikuti diklat pramuka,awalnya aku senang karena kata mereka diklat itu pelantikan menjadi anggota tetap.aku pikir menyenangkan ternyata tidak semenyenangkan itu.hal yang paling tidak kusukai dari diklatku waktu itu adalah bimen yang dilakukan tengah malam ,karena sebelumnya aku tidak tahu bimen itu apa,jadi saat mereka melakukan bimen ke aku dan teman-temanku aku marah sekali ,setelah diklat selesai,baru aku mengetahui arti bimen sesungguhnya,dan saat aku tahu masih ada diklat-diklat selanjutnya aku memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut,alasanku mudah,ya karena aku tidak mau di bimen lagi.mudah tapi bikin kesal anggota-anggota lain ya karena mereka mengataiku masih bayilah atau apalah,aku tak peduli karena aku memang tidak suka dimarah-marahin apalagi sampai dibentak-bentak didepan wajah saat aku diberitahu kalau ditempat perkuliahan masih ada diklat aku kaget,yah rasanya itu ingin tidak ikut UKM apapun,karena aku masih trauma dengan diklatku waktu lalu.saat seseorang memberitahuiku kalau UKM itu wajib dan ada beberapa orang lain lagi yang mengatakan bahwa UKM itu tidak wajib,aku bingung.mereka-mereka ini memang suka bikin maba yang labil kayak aku jadi kelihatan binungnya apa gimana sih.untung aja aku megang prinsip kalo UKM itu wajib terlepas UKM itu tidak wajib/PU wajib terserahlah.yang penting aku ikut UKM yang kuinginkan meskipun alu ga ada bakat sama sekali untuk masuk di UKM itu.yang penting niat didahulukan,urusan nanti akan jadi apa kupasrahkan saja pada yang diatas.
Detik-detik mulainya diklat yang kutunggu-tunggur tapi yagitulah,sudah mukil terasa,karena sebelum dimulai aku dan yang lain diberi materi-materi pembekalan untuk diklat nanti,ternyata diklatku kali ini berbeda dari diklatku waktu dulu,memang menyenangkan karena malam mingguku aku berada di mall terbesar di surabaya,maksudku mall terbesarb dari sekian-sekian mall besar yang ada di surabaya,dan aku juga dapat ilmu yang dulunya aku hanya dapat teori-teorinya saja seperti saat aku menwawancarai orang-orang.karakter-karakter orang yang kutemui beda dari karakter-karakter yang pernah kutemui sebelumnya,karena sebelumnya ku pikir meskipun setiap orang itu berbeda-beda masih ada sedikit karakter yang sama ternyata dari kemarin yang kutemui kemarin sangat-sangat berbeda dari yang kupikirkan,setelah aku menwawancarai mereka,aku balik ke titik kumpul yang sudah direncanakan sebelumnya meskipun tugas belum sepenuhnya selesai mau tidak mau harus kembali daripada harus ketinggaln rombongan.setelah berputar-putar mencari titik kumpul dimana,aku meminta rekanku untuk rehat sejenak karena aku sudah benar-benar lelah,untungnya rekanku pengertian kepadaku.setelah istirahat sejenak,aku melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan rekan-rekanku lainnya.setelah bertemu dengan rekan-rekanku lainnya,aku melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya,setelah sampai taman bungkul aku mendapatkan tugas yang sama seperti di tunujungan plaza tadi,yaitu menwawancarai orang-orang,tetapi kali ini aku berganti rekan,dan aku berharap semoga rekanku kali ini sama seperti rekanku yang tadi,saat aku melakukan wawancara ternyata rekanku juga menyuruhku untuk membantunya wawancara dari awal sampai akhir padahal waktu aku bersama rekanku sebelumnya aku hanya membantu dia wawancara dengan beberapa orang saja.tapi enaknya,orang-orang yang ada di tunjungan plaza  karena orang-orang yang berada di TP tidak seramah di taman bungkul,waktu aku wawancara di taman bungkul orang-orangnya engan senang hati menjawab semua pertanyaanku.setelah aku melakukan semua tugasku aku kembali lagi berkumpul dengan teman-temanku,karena biasanya setelah penugasan selesai selalu ada materi dan tanya jawab yang diberikan setelah dari taman bungkul aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki yang tujuannya masih tak tahu dimana,sekian lama aku jalan aku pikir kita bakal disuruh jalan sampai bungurasih,mati aku batinku ternyata saat berhenti ditempat yang belum pernah aku kunjungi/mungkin saja aku pernah lewat situ karena malam aku jadi lupa tempatnya setelah kita diberitau maksud dan tujuan kita berhenti disitu apa,barulah kita melanjutkan tugas yang sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti maksudnya apa.jadi aku hanya mengiyakan saja tugasku aku hanya melewati atau lebih tepatnya masuk dan berjalan di tengah-tengah rel wonokromo,yang seingatku dulu aku hanya melewatinya dari luar tanpa tahu isi dalamnya itu apa.
saat aku melewati rel itu aku banyak menemui hal-hal yang sebelumnya sudah kulihat di sidoarjo,sebenarnya aku sudah tidak kaget lagi tapi entah